Haru Biru Menjadi Santriwati Baru

"Mama Baba pulang ya?" Aku tertegun mendengar kalimat tersebut. Hening, namun hatiku berkecamuk, jantungku berdebar kencang. Aku menjawab dengan garis bibir yang kupaksa melengkung. Faktanya, air mata tak dapat berbohong. "Iya". Lagi, aku tak kuasa menahan tangis. Bangun pagi, Muhadatsah (Morning Conversation), Muhadhoroh (Public Speaking), Pramuka, antri dimanapun, semua itu sukses membuatku mati rasa. Rasanya ingin pulang saja. Kutatap sekali lagi wajahnya, rambut yang kian memutih, dan raga yang tak sekuat dulu. 'Mereka sudah tua'. Mereka tersenyum sembari menyeka air mataku. "Jangan nangis, kita selalu komunikasi lewat Do'a ya, nak" pinta mereka sambil memelukku. Teringat jelas bagaimana perjuangan mereka. Berlari untuk mengambil nomor pendaftaran, berdesak-desakan, mengantre dibawah terik matahari, tidur di emperan Masjid. Mereka yang selalu pergi kesana kemari untuk membeli barang kebutuhan, menyemangatiku belaja...